Sibuk di Rantau? Masih Bisa

0
322 views

Merantau dan bekerja di luar Purworejo adalah pilihan hidup masing-masing orang. Dengan merantau, mungkin taraf hidup akan lebih baik, karena lapangan pekerjaan di daerah yang kurang. Hal itu pun saya lakukan selepas lulus Sekolah Menengah Kejuruan. Walau memang saat awal merantau bukan bekerja, namun meneruskan kuliah. Tapi itu hal yang tidak jauh berbeda karena setelah selesai kuliah pun langsung bekerja di sebuah perusahaan yang berada di kota Metropolitan, di mana aku menimba ilmu.

Bekerja dan berkarir di Ibu Kota mungkin idaman bagi banyak orang di Indonesia ini. Hal itu terlihat dari banyaknya masyarakat Jakarta yang datang dari daerah, tidak terkecuali dengan masyarakat Purworejo.

Banyak sekali aku melihat dan ketemu langsung dengan orang sama-sama berasal dari Purworejo. Tidak hanya itu dengan banyaknya paguyuban Purworejo yang aktif di media sosial, terlihat sebegitu banyaknya perantau asal Purworejo. Bisa dilihat saat paguyuban tertentu mengdakan Kopi Darat (KOPDAR). Ratusan hingga ribuan orang memadati area pertemuan.

Dengan banyaknya masyarakat yang berbondong-bondong untuk mengadu nasib di rantau, sehingga kotanya sendiri menjadi semakin sepi masyarakatnya. Tidak hanya sepi, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Yogyakarta ini juga dicap sebagai kota pensiunan. Apakah sekarang cap itu masih berlaku?

Atas dasar itulah, makin banyak masyarakat Purworejo baik yang rantau atau pun masih tinggal di kampung halaman berbondong-bondong untuk memajukan Purwoerejo. Jadi inget masa kuliah dulu. Sekitar tahun 2011 mahasiswa Purworejo yang di Jakarta, dan tergabung di Ikatan Mahasiwa Jakarta Raya (IMAPURJAYA) membuat sebuah website yang isinya seputar hal baik yang ada di Purworejo. Visi dan niatan membuat web itu untuk “mengembalikan” lagi masyarakat rantau atau tidak untuk peduli terhadap kampung halaman.

Waktu itu sepengetahuan saya belum banyak website lokal dan tentunya belum banyak yang peduli untuk memajukan. Namun sekarang Alhandulillah semakin banyak masyarakat Purworejo yang peduli dan ingin memajukan Purworejo. Ini dilihat dari paguyuban, komunitas atau pribadi yang melakukan aksi nyata. Secara tidak langsung visi dan harapan kami dulu untuk “mengembalikan” lagi masyarakat Purworejo sudah cukup berhasil.

Memang untuk berbuat sesuatu kepada kampung halaman juga dapat dilakukan di rantau dengan kesibukannya masing-masing. Itu pun harus didasari rasa ikhlas tidak mengharapkan imbalan apa-apa selain melihat Purworejo maju.

Seperti yang diceritakan senior dan guru saya, Yulianto yang juga sibuk dengan pekerjaan di rantau, bahwasanya siapa lagi kalau bukan kita yang memberikan sumbangsih kepada Purworejo. “Karena sebagai orang yang lahir dan besar di Purworejo, selalu ada rasa rindu kepada kampung halaman, dan sebagai putra asli Purworejo ada semacam keinginan atau cita-cita untuk ikut berperan aktif dalam memajukan Purworejo agar bisa sejajar dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Apalagi Purworejo terkenal sebagai suatu daerah yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Negara Indonesia ini. Banyak tokoh-tokoh nasional yang terlahir di kota kecil serta sunyi bernama Purworejo ini. Tidak pernah hilang rasa bangga saya terhadap tanah kelahiran. Walau pun saya tidak bisa selalu berdiri di atas tanah kelahiran Purworejo. Saya akan terus berjuang untuk kemajuan tanah kelahiran saya dengan cara aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, kemanusiaan, budaya, tradisi-tradisi yang terdapat di Purworejo dan berupaya ikut menggerakan adik-adik saya, anak-anak muda Purworejo untuk lebih aktif lagi mengadakan acara-acara bertajuk Purworejo di manapun mereka berada. Sehingga diharapkan nantinya Purworejo semakin dikenal di seluruh penjuru tanah air kita ini”, itulah ungkapan salah seorang tokoh sekaligus senior saya yang juga sama-sama merantau.

Namun, walau semakin banyak masyarakat Purworejo yang peduli dan tidak diimbangi dengan perubahan pola pikir masyarakatnya sendiri, bahwasanya Purworejo bisa maju. Walau dalam sebuah mitos yang saya dengar, Purworejo tergolong kota tanah cengkar.

Tanah cengkar atau tanah panas dalam arti kiasan bahwa tanah cengkar memang tidak bisa dikelola atau diolah dan dalam pandangan kaum tua atau kaum yang masih berpikiran feodal tanah cengkar tidak akan pernah bisa maju. karena berbagai faktor, sehingga embah-embah kita dulu selalu berwasiat kepada anak cucunya agar kita pergi merantau ke daerah lain, ke kota-kota besar, menjauhi tanah cengkar, tanah kelahiran kita, untuk bisa hidup layak, hidup mapan, hidup sukses.

Nah… tugas kita sekarang ini adalah merubah pola pikir, merubah stigma buruk tentang tanah kelahiran kita Purworejo, dari pandangan feodal tentang tanah cengkar yang tidak bisa maju menjadi tanah harapan yang pasti akan bisa maju.

Apalagi dengan pembangunan Bandara Internasional Kulon Progo yang letaknya berbatasan langsung dengan Purworejo. Saya yakin, dengan semangat anak-anak muda Purworejo sekarang ini, Purworejo akan berubah. Dari tanah cengkar menjadi tanah harapan, dan kita akan mampu mensejajarkan diri dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Semangat Purworejo, semangat Indonesia.(Cc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here